Fenomena JOMBLO yang ada di sekitar kita

Seperti yang kita bisa lihat akhir-akhir ini, gerakan menghina para jomblo atau kaum-kaum fakir asmara yang tidak punya seseorang untuk digandeng ke mana-mana mulai terasa massive. Banyak akun-akun humor di media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook dan Path berlomba-lomba membuat meme atau gambar lucu tentang betapa mengenaskannya hidup para jomblo ini. Berikut beberapa contohnya:






 
 
 


Lihat? Sebegitu mengenaskannya nasip para jomblo di mata masyarakat Indonesia sampai-sampai ada-ada aja bahan ejekannya, hahaha, masyarakat kita memang kreatif ya. Tingkah laku remaja sekarang mulai berlomba-lomba mencari pacar—siapa aja deh pacarnya, asal punya pacar, cocok gak cocok yang penting kena gitu—biar gak merasa tersindir dan terhina kalau lihat gambar-gambar begituan.

Sebenarnya, tindakan mengolok-olong para jomblo ini pada mulanya hanya sebagai bahan lucu-lucuan semata. Orang-orang pun yang menanggapinya beragam, ada yang cuek, ada yang ketawa dan senang, ada pula yang menanggapi itu sedikit serius lantas terpacu untuk mencari pacar secepatnya. Namun, jika tindakan massive ini terus berlanjut hingga dianggap bukan lagi sekedar bahan becandaan tapi sebagai budaya, tentu saja akan berakibat fatal bagi mental generasi muda kita.

Dalam Ilmu Sosiologi, ada salah satu teori pemicu terjadinya penyimpangan sosial yaitu Teori Labeling yang dikemukakan oleh Edwin M. Merton (1951). Teori Labeling ini menyatakan bahwa seseorang menjadi memiliki perilaku menyimpang karena proses labeling atau pemberian cap, julukan, etiket negative yang diberikan masyarakat kepada seseorang tersebut.

Contoh kasusnya saja seperti topik bahasan kita sekarang yaitu ejekan kepada kaum jomblo yang sering terjadi di masyarakat. Ejekan-ejekan serta cap kalau jomblo adalah kaum yang menengenaskan itu mungkin dulu tidak begitu banyak berdampak, tapi fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang mulai menunjukkan kalau penyimpangan-penyimpangan sosial itu mulai terjadi. Berikut beberapa dampak umum yang sedang dan mungkin akan terjadi pada masyarakat kita dengan mengacu pada Teori Labeling di atas:

Timbulnya Pola Pikir ‘GUE HARUS PUNYA PACAR’ 
Dulu istilah pacaran yang santer dalam beberapa dekade ini tidaklah begitu penting, karena di kalangan mereka perjodohan masih menjadi momok dan sarana untuk mencari pasangan hidup yang paling utama. Seiring berkembangnya zaman, istilah pacaran dan menemukan sendiri pasangan hidup mulai muncul dengan kisah-kisah pelopor seperti Siti Nurbaya, dan lain sebagainya. Orang-orang pun kemudian meyakini bahwa perjodohan itu sama sekali tidak baik, dan di titik inilah masa-masa istilah pacaran itu mulai booming.

Tujuan utama pacaran pada awalnya adalah kebebasan untuk mencintai siapa pun yang ingin kita cintai dan menjalin hubungan bersama hingga ke pelaminan. Namun, semakin besarnya pengaruh fenomena pacaran ini di kalangan masyarakat, timbulah fenomena lain yang sekarang kita sebut jomblo.

Layaknya antonim dari pacaran yang berbalas kasih, definisi jomblo adalah fakir asmara. Mereka dianggap gagal dalam mencintai seseorang karena orang itu tidak membalas cinta mereka. Atau dengan definisi lainnya, mereka adalah orang-orang yang tidak ingin dijodohan dan berusaha mencari jodoh sendiri namun Tuhan belum mempertemukannya.

Di zaman globalisasi seperti sekarang ini dengan semua informasi yang terus berkembang dan berputar cepat, fenomena pacaran semakin kuat. Orang-orang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar, entah dari forum-forum pencarian jodoh atau pun media sosial. Ditambah lagi dengan maraknya pasangan yang suka mengumbar kemesraan di dunia maya, fenomena pacaran semakin terangkat tinggi.

Maka, seperti pepatah semakin terang cahaya itu bersinar maka semakin panjanglah bayangannya. Fenomena Jomblo pun ikut terangkat sebagai bahan ‘ejekan’ di dunia maya. Fenomena jomblo terus digodok, digempur, dan diangkat setiap waktu hingga sekarang bahkan lebih tenar ketimbang fenomena pacaran sebagai bahan ejekan.

Lantas, emang enak jadi kaum yang terus menerus diejek?

Dengan semangat kagak-mau-diejek-karena-jomblo, orang-orang berlomba-lomba mencari jodoh. Mereka tidak ingin menjadi kaum yang diejek, mereka ingin menjadi kaum yang ‘mengejek’. Sifat dasar manusia yang senang melihat orang menderita dan menderita kalau melihat orang lain senang itu pun bangkit. Hingga waktu ke waktu, pola pikir ‘gue harus punya pacar’ ini pun terus tumbuh dan berkembang di masyarakat hingga sulit dihilangkan.
Maraknya Kekerasan dan Pertikaian akibat ‘masalah pacar’
Bunuh Teman Gara-Gara Berebut Pacar

Diduga Rebutan Pacar Siswi SMP Serang Murid SD

Seorang Wanita Otaki Pembunuhan Sang Mantan Pacar

Kepala Gadis 14 Tahun Dipenggal Sang Kekasih Karena Hamil

Dari empat berita diatas itu cukup menjelaskan betapa berbahayanya pola pikir ‘gue harus punya pacar’ ini. Timbulnya tindakan-tindakan ini tentu tidak lepas dari pemahaman sempit bahwa cinta itu antara perempuan dan laki-laki, sehingga mengabaikan bentuk cinta yang lain yaitu cinta kasih kepada sesama. Kurangnya pemahaman tentang cinta dalam bentuk berpacaran ini pula juga yang membuat masyarakat kita tidak dapat berpikir kritis dan bertindak tanpa akal sehat, sehingga kejadian-kejadian seperti ini marak sekali terjadi.

Ketika kejadian-kejadian ini terus terjadi dan semakin menjadi. Pola pikir ‘gue harus punya pacar’ ini pun semakin kuat tertancap di benak masyarakat luas hingga menurun ke anak-anak mereka. Hal inilah yang akan memicu bahaya, karena jika pola pikir ini sampai menjadi budaya yang melekat di benak generasi muda kita, yang terjadi di masa depan justru akan lebih buruk lagi.
Indonesia yang Generasi Mudanya Mengalami Banyak Penyimpangan Sosial

Kalian tahu, secara tidak langsung, ketika kalian mengejek dan menjelek-jelekan status jomblo kalian telah menanamkan ide kepada masyarakat bahwa menjadi jomblo itu JELEK. Ide inilah yang kemudian menjadi sumber dari segala masalah dan krisis yang terjadi di dalam diri seseorang. Ide tentang JOMBLO=JELEK itu akan berkembang, menjadi rasa tidak percaya diri karena merasa tidak laku, kemudian terus berkembang hingga terobsesi memiliki pacar dan mengalami jatuh cinta semu yang dikendalikan oleh nafsu semata.

Jika penyebarluasan ide ini terus dicanangkan hanya untuk memenuhi rasa puas menertawakan semata. Bahaya yang terjadi bukanlah sekarang, tapi di masa yang akan datang. Segala bentuk penyimpangan sosial yang terjadi dimulai dari sebuah ide yang salah, ide mencuri, ide membunuh, ide mencoba narkoba, dan berbagai macam ide-ide lainnya. Semua di mulai dari pikiran.
Untuk seluruh masyarakat Indonesia, dimohon untuk lebih bijak menyikapi fenomena kehidupan seperti pacaran dan jomblo ini. Kita tidak bisa menghakimi kalau orang yang memiliki pacar itu lebih baik ketimbang orang yang mmilih hidup sendiri karena itu hak masing-masing individu.
Kita hidup di negara demokratis yang suku, budaya, dan bahasanya berbeda-beda, di sanalah letak kekuatan kita sebagai suatu bangsa. Jangan hanya karena masalah konyol tentang fenomena jomblo ini saja jadi bikin tinggal di Indonesia kok rasanya gerah amat ya. Hahahaha.



Source: 
http://www.kaskus.co.id/thread/53e1f389a2cb17f5438b493b/bahaya-besar-dari-terus-menerus-menjelek-jelekan-fenomena-jomblo

Post a Comment

Komentar Terbaru

Just load it!